'' Bismillaahirrohmaannirrohiim ''
Pukul 10.30 menjelang siang, Kereta Parahyangan yang kutumpangi mulai bergerak meninggalkan Stasiun Bandung menuju Jakarta. Udara cerah. Langit biru.
Aku duduk digerbong kedua, dikursi yang terletak dijajaran kiri, menghadap kearah yang berlawanan dengan arah bergerak mobil.
Seorang wanita duduk dihadapanku. Ia baru saja masuk ke gerbong ini sesaat sebelum kereta berangkat. Hampir terlambat. Ia mengenakan jilbab putih dan celana panjang yang putih pula. Paras yang tanpa pulasan kosmetik itu kulirik sekilas. Aih, betapa anggunnya.
Kemudian kulemparkan pandanganku keluar. Disana pohon-pohon, gedung-gedung, gunung-gunung, awan-gemawan dan lainnya tampak seperti bergerak. Kurasakan kereta berlari semakin cepat. Ya, semakin cepat.
Mobil terus bergerak. Sudah cukup lama aku dan wanita itu berdiam diri ketika akhirnya secara kebetulan kami bertemu pandang. Aku mengangguk sambil tersenyum. Ia tersipu malu.
'' Adik pergi ke Jakarta '' cetusku. Ia mengangguk.
Bodoh! Tentu saja ia pergi ke Jakarta. Kemana lagi mobil Parahyangan ini kalau bukan ke Jakarta?
'' Pergi atau Pulang? '' Ucapku lagi sambil menatap wajahnya yang anggun.
'' Pergi. Saya akan mengunjungi bibi saya yang tinggal di Jakarta, '' sahutnya. Ia memandangku, lalu balik bertanya, '' Kakak sendiri pulang atau pergi? ''
'' Pulang. Saya baru mengunjungi saudara saya yang tinggal di Bandung, '' jawabku.
'' Adik turun dimana? ''
'' Jatinegara. Dan Kakak? ''
'' Gambir. ''
'' Sering ke Bandung? ''
'' Ah, sekali-sekali saja, kalau ada kebutuhan. Adik sering ke Jakarta? ''
'' Kadang-kadang. ''
Dia minta pendapatku tentang perkembangan remaja Islam di Kotanya, Aku bilang bahwa kalau aku sangat terkesan dengan berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan kaum remaja di Bandung, terutama di Masjid Salman.
'' Saya pernah menghadiri ceramah Dhuha di Salman pada hari minggu bersama saudara saya. Wah, Saya lihat Salman begitu ramai oleh kaum remaja yang haus akan agama. Lebih banyak dari Masjid dikota saya yang sering saya kunjungi, '' komentarku. Ia tertawa. Tampak gigi-giginya yang berderet rapi, putih dan bersih, Tawanya begitu merdu semerdu kicau murai dipagi hari. kalau ia mengaji pastilah suaranya lebih merdu lagi dari tawanya. '' Subhanalloh '' Sungguh Indah Alloh menciptakan wanita dari tulang rusuk pria ..? '
'' Dari hari ke hari tampaknya semakin banyak saja wanita yang mengenakan jilbab, terutama dikota-kota besar, '' ujarku.
'' Tapi, mungkin semakin banyak pula orang yang sinis dan mencemoohkan kaum wanita yang mengenakan pakaian itu, '' balasnya.
'' Bagaimana Adik tahu? ''
'' Saya mengalaminya beberapa kali, kok. Saya pernah dikatain lemper dan astronot. Bahkan kerabat saya pun pernah terheran-heran mengapa saya mengenakan 'handuk' dan 'jaket' ketika berada di Ibu kota yang sepanas ini. Saya sih diam saja. Biar sajalah mereka berpendapat begitu. Mereka kan tidak mengerti meskipun mereka mengaku beragama Islam. Saya malah kasihan kepada mereka atas ketidaktahuan mereka tentang Islam. ''
Wanita itu memandangku lekat, nyaris membuatku kikuk. Lalu kubalas pandangannya.
Kupikir wanita berjilbab hadapanku ini berbeda dari kebanyakan wanita berjilbab lainnya. Ia lebih berani memandang wajah pria yang menjadi lawan bicarany. Padahal, Kebanyakan Muslimah lainnya lebih sering menundukan wajah dan pandangannya, seperti yang diajarkan Al-Qur'an.
Parahyangan terus melaju diatas relnya. Banyak stasiun yang sudah kami lewati: Stasiun Cimahi, Padalarang, Plered, Purwakarta, dan stasiun-stasiun lainnya. Sebentar lagi kita akan melewati Cikampek.
Kami menyantap hidangan makan siang yang sudah kami pesan sebelumnya.
Selesai makan siang, Kami melanjutkan obrolan tentang beberapa hal. Obrolan terasa lebih santai dan lebih leluasa karena memang tak ada penumpang lain yang duduk disamping kami masing-masing, yang bisa kami ajak bicara.
Sedikit demi sedikit kami mengurangi obrolan. Wanita itu mengantuk. Ia mulai memejamkan mata.,