Senin, 17 April 2017

WANITA BERHIJAB DARI PARAHYANGAN Part 2


Beberapa lama kutatap seraut wajah yang ayu itu. Wajah itu begitu lugu, damai, seperti wajah bayi yang tertidur pulas. 
Parahyangan yang kutumpangi sudah melewati karawang. Sebentar lagi kami akan melewati Bekasi. Seorang pramugari kereta menyodorkan bon pembayaran makanan dan minuman yang telah kami ganyang tadi. Tanpa sepengetahuan teman perjalananku yang sudah ''semaput'' itu, aku sekalian membayar makanan dan minuman yang telah dipesannya tadi. 
Lucu juga, Sedari tadi aku bersenda dengan wanita itu, tetapi kami belum mengetahui nama masing-masing. 
Tak lama lagi kereta akan sampai di Jatinegara. Wanita itu masih tertidur. Ah, Aku harus membangunkannya. 
Aku baru membangunkannya ketika tiba-tiba mata yang terpejam itu terbuka perlahan. 
''Oh, maaf. Saya tertidur tadi,'' Ujarnya. 
''Sebentar lagi kita akan sampai di Jatinegara. Adik akan turun di sana, kan?'' kataku. Ia mengiakan. 
''Eh, saya belum membayar nasi goreng dan teh yang saya pesan tadi,'' katanya. 
Aku tersenyum. ''Sudah saya bayar tadi,'' jawabku. ''kalau begitu...kalau begitu...'' wanita itu membuka tasnya mencari-cari sesuatu. 
''Ah, tak perlu Adik ganti. Toh tak seberapa,'' kataku. 
''Oh terima kasih kalau begitu. Saya telah merepotkan kakak,'' ucapnya pula, agak tersipu. 
Kereta api mengurangi kecepatannya. Aku agak kecewa karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan wanita yang ayu dan bermata teduh itu. 
Perlahan kereta memasuki Stasiun Jatinegara. Wanita itu berdiri dan bersiap-siap untuk turun. Kubantu ia menurunkan tasnya dari tempat penyimpanan barang yang berada diatas tempat duduk kami. 
''Terima kasih atas segalanya, Kak,'' Ujarnya sesaat sebelum ia berlalu. 
''Sama-sama,'' sahutku. Kami bertatapan dan sama-sama tersenyum. 
''Eh...boleh saya tahu nama Adik?'' kataku. 
''Amanda,'' ujarnya tanpa ragu-ragu. 
Kuperkenalkan juga namaku kepadanya. 
Kuantarkan ia sampai pintu keluar kereta. Diambang pintu itu kami saling mengucapkan salam. 
''Sampai bertemu lagi Kapan-kapan, Kak,'' Ucap Amanda. 
''Ya, sampai jumpa lagi,'' balasku. dan kami pun berpisah. 
Kembali ketempat dudukku, Aku kaget. Kutemukan sebuah dompet wanita yang tergeletak disudut kursi yang tadi diduduki Amanda. Celaka, Rupanya dompet Amanda Ketinggalan. Secepat kilat kubuka dompet kulit itu. Benar saja, didalamnya ada KTP Amanda dan sejumlah uang. Bergegas aku keluar untuk menyusul Amanda dan mengembalikan dompet itu kapadanya. 
Dengan terburu-buru aku keluar stasiun. Diluar stasiun, agak jauh disebelah sana, Tampak Amanda berjalan, hendak menyebrangi jalan yang cukup padat dengan berbagai kendaraan. 
''Dik Manda! Dik Manda!'' teriakku ini dompet Adik ketinggalan,'' sekali lagi aku berteriak memanggilnya dari belakang. Ia terus saja berlalu..?' 
Aku menyebrangi jalan dan mengejar Amanda. Ia terus berjalan dan menjinjing tasnya. 
''Dik Manda, Tunggu!'' kutepuk bahu Amanda dari belakang dan ia menoleh. Begitu kami berhadapan wajah, tampak ia terkejut sekali. Wajahnya memucat. 
''Oh kakak!'' Knapa kakak mengejarku, Tanya Amanda kepadaku..?' 
''Ini dompetmu ketinggalan di kereta, tanpa ini kamu akan sangat kesusahan Dik. 
Oia tadi aku berteriak memanggilmu tapi Dik Manda terus saja berjalan, Ada apa Dik,'' Kataku. Kutatap wajah Amanda yang pias. Tiba-tiba aku menaruh curiga yang aneh terhadapnya. 
''Oh Maaf,'' Ujarnya seraya menerima dompetnya dengan tangan yang rada gemetar. ''Maaf'' bukannya saya tidak mendengar panggilan kakak. Tapi, Saya takut jika benar-benar kakak mengejar saya dan terjebak oleh perasaan selama dalam perjalan kita, Karena saya Adalah Wanita yang sudah terhijab oleh ikatan suci. ''Seperti tanpa disadarinya, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Amanda, Kemudian ia pun kembali meneruskan perjalanan nya. 
Aku seperti linglung dan kalut. Ah, pantaslah, selama pembicaraan kami tadi, Ia terus memandangku. 
Dan aku hanya bisa berkata dalam Hatiku ''Sungguh.....,,,Anugerah sekali seorang suami yang beristerikan seorang wanita seperti Dia''..?' 



Minggu, 01 Januari 2017

Konsep Jodoh Menurut Pandangan Islam

Konsep Jodoh Menurut Pandangan Islam merupakn bagian dari takdir artinya hal tersebut sudah menjadi ketentuan Allah SWT sejak jaman azali untuk manusia dalam kitab lauhul mahfudz. sesungguhnya allah telah menciptakn jodoh sesuai kualitas diri serta keimanan yang pas pada setiap manusia dan akan di pertemukan di waktu yang tepat.,

Jadi tidak ada istilah terlalu cepat atau terlambat untuk bertemunya suatu jodoh karena semua hal akan menjadi mungkin bagi allah.

Konsep Jodoh Menurut pandangan Islam yang bagaimana yang ridhai Allah SWT.

Konsep Jodoh  Menurut pandangan Islam  Yaitu Jodoh yang di ikat oleh akad melalui ikatan perkawinan yang sah seperti dalam Firman Allah dalam Surat An nuur :30

Artinya : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An nuur : 30 )

Dari ayat tersebut disimpulkan bahwa tujuan pernikahan adalah memberikan rasa tentram dan damai seorang istri terhadap suaminya dengan kelembutan yang di miliki dan juga seorang suami memberikan rasatenang erhadap isri untuk memimpin keluarganya.

Pasti Di Antara Kita Bertanya Berapakah Jodoh Kita Apakah Ada 1 Atau Lebih Dari 1.

Klo kita medengar kata jodoh konotasi kita pasti hanya satu seumur hidup hingga kematian memisahkan kita.namun jika jodoh itu hanya satu kenapa di antara kita masih ada perceraian, apakah pasangan kita sebelumnya bukan jodoh kita ?

Menurut konsep jodoh menurut pandangan islam menjelakan perceraian tak lepas dari takdir allah.namun semuai itu di serahkan kepada hamba allah walaupun islam tidak menganjurkan utuk bercerai namun justru terkadang perceraian membawa kebaikan pada kita, ketika pasangan hidup kita mempunyai akhlak yang buruk dan tidak mau tunduk apa syariat islam.

Jodoh/pasangan hidup juga mungkin tidak seumur hidup dan jumlahnya bukan hanya satu sesuai kehendak Allah SWT terhadap hambanya,jadi jika ada seorang laki2 menikahi seorang wanita dan dikatakan mereka berjodoh namun saat pasangan suami istri ini berpisah maka dikatakan pernikahan sudah berahir dan laki2 tersebut menikahi wanita lainya maka pasangan baru itu jodoh baginya dan begitu seterusnya.

Semua kejadian tersebuat sudah ada di lauhul mahfudz tempat dimana dituskan semua kejadian yang akan terjadi dan kita sebagai manusia tidak pernah tahu seperti apakah dan bentuk ketentuanya.karena itu rahasia Allah SWT jika semua sudah di takdirkan oleh Allah SWT.

Demikain pembahasan konsep jodoh menurut pandangan islam yang di jelaskan di dunia islam semoga bermanfaat bagi para kita semua.

Sabtu, 03 Desember 2016

WANITA BERHIJAB DARI PARAHYANGAN Part 3

Aku bersyukur atas nikmatmu ya Alloh.....,,,kau telah memperkenankan Aku mengenalnya walaupun bukan untuk aku miliki..?'
Dan Aku hanya bisa berharap.....,,,Semoga Alloh SWT menyatukan kami dikehidupan yang lain.

*Mohon maaf kepada orang yang bersangkutan, Apabila dalam penulisan ini ada kata - kata yang kurang baik untuk dituangkan.....,,,Semoga ALLOH Swt selalu menjaga Sillaturohmi kita.,

sekali lagi.....,,,Nasib tidak berfihak kepadaku, Tapi aku yakin kalau Alloh swt menyimpan rencana yang besar untukku..?' Ammiiinnn

Author : Jaben Jabaniyah Al-Ghozali.,
- Note Description Story Of JABEN -

WANITA BERHIJAB DARI PARAHYANGAN Part 1

'' Bismillaahirrohmaannirrohiim '' 



Pukul 10.30 menjelang siang, Kereta Parahyangan yang kutumpangi mulai bergerak meninggalkan Stasiun Bandung menuju Jakarta. Udara cerah. Langit biru.
Aku duduk digerbong kedua, dikursi yang terletak dijajaran kiri, menghadap kearah yang berlawanan dengan arah bergerak mobil. 
Seorang wanita duduk dihadapanku. Ia baru saja masuk ke gerbong ini sesaat sebelum kereta berangkat. Hampir terlambat. Ia mengenakan jilbab putih dan celana panjang yang putih pula. Paras yang tanpa pulasan kosmetik itu kulirik sekilas. Aih, betapa anggunnya. 
Kemudian kulemparkan pandanganku keluar. Disana pohon-pohon, gedung-gedung, gunung-gunung, awan-gemawan dan lainnya tampak seperti bergerak. Kurasakan kereta berlari semakin cepat. Ya, semakin cepat. 
Mobil terus bergerak. Sudah cukup lama aku dan wanita itu berdiam diri ketika akhirnya secara kebetulan kami bertemu pandang. Aku mengangguk sambil tersenyum. Ia tersipu malu. 
'' Adik pergi ke Jakarta '' cetusku. Ia mengangguk. 
Bodoh! Tentu saja ia pergi ke Jakarta. Kemana lagi mobil Parahyangan ini kalau bukan ke Jakarta? 
'' Pergi atau Pulang? '' Ucapku lagi sambil menatap wajahnya yang anggun. 
'' Pergi. Saya akan mengunjungi bibi saya yang tinggal di Jakarta, '' sahutnya. Ia memandangku, lalu balik bertanya, '' Kakak sendiri pulang atau pergi? '' 
'' Pulang. Saya baru mengunjungi saudara saya yang tinggal di Bandung, '' jawabku. 
'' Adik turun dimana? '' 
'' Jatinegara. Dan Kakak? '' 
'' Gambir. '' 
'' Sering ke Bandung? '' 
'' Ah, sekali-sekali saja, kalau ada kebutuhan. Adik sering ke Jakarta? '' 
'' Kadang-kadang. '' 
Dia minta pendapatku tentang perkembangan remaja Islam di Kotanya, Aku bilang bahwa kalau aku sangat terkesan dengan berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan kaum remaja di Bandung, terutama di Masjid Salman. 
'' Saya pernah menghadiri ceramah Dhuha di Salman pada hari minggu bersama saudara saya. Wah, Saya lihat Salman begitu ramai oleh kaum remaja yang haus akan agama. Lebih banyak dari Masjid dikota saya yang sering saya kunjungi, '' komentarku. Ia tertawa. Tampak gigi-giginya yang berderet rapi, putih dan bersih, Tawanya begitu merdu semerdu kicau murai dipagi hari. kalau ia mengaji pastilah suaranya lebih merdu lagi dari tawanya. '' Subhanalloh '' Sungguh Indah Alloh menciptakan wanita dari tulang rusuk pria ..? ' 
'' Dari hari ke hari tampaknya semakin banyak saja wanita yang mengenakan jilbab, terutama dikota-kota besar, '' ujarku. 
'' Tapi, mungkin semakin banyak pula orang yang sinis dan mencemoohkan kaum wanita yang mengenakan pakaian itu, '' balasnya. 
'' Bagaimana Adik tahu? '' 
'' Saya mengalaminya beberapa kali, kok. Saya pernah dikatain lemper dan astronot. Bahkan kerabat saya pun pernah terheran-heran mengapa saya mengenakan 'handuk' dan 'jaket' ketika berada di Ibu kota yang sepanas ini. Saya sih diam saja. Biar sajalah mereka berpendapat begitu. Mereka kan tidak mengerti meskipun mereka mengaku beragama Islam. Saya malah kasihan kepada mereka atas ketidaktahuan mereka tentang Islam. '' 
Wanita itu memandangku lekat, nyaris membuatku kikuk. Lalu kubalas pandangannya. 
Kupikir wanita berjilbab hadapanku ini berbeda dari kebanyakan wanita berjilbab lainnya. Ia lebih berani memandang wajah pria yang menjadi lawan bicarany. Padahal, Kebanyakan Muslimah lainnya lebih sering menundukan wajah dan pandangannya, seperti yang diajarkan Al-Qur'an. 
Parahyangan terus melaju diatas relnya. Banyak stasiun yang sudah kami lewati: Stasiun Cimahi, Padalarang, Plered, Purwakarta, dan stasiun-stasiun lainnya. Sebentar lagi kita akan melewati Cikampek. 
Kami menyantap hidangan makan siang yang sudah kami pesan sebelumnya. 
Selesai makan siang, Kami melanjutkan obrolan tentang beberapa hal. Obrolan terasa lebih santai dan lebih leluasa karena memang tak ada penumpang lain yang duduk disamping kami masing-masing, yang bisa kami ajak bicara. 
Sedikit demi sedikit kami mengurangi obrolan. Wanita itu mengantuk. Ia mulai memejamkan mata.,