Parahyangan yang kutumpangi sudah melewati karawang. Sebentar lagi kami akan melewati Bekasi. Seorang pramugari kereta menyodorkan bon pembayaran makanan dan minuman yang telah kami ganyang tadi. Tanpa sepengetahuan teman perjalananku yang sudah ''semaput'' itu, aku sekalian membayar makanan dan minuman yang telah dipesannya tadi.
Lucu juga, Sedari tadi aku bersenda dengan wanita itu, tetapi kami belum mengetahui nama masing-masing.
Tak lama lagi kereta akan sampai di Jatinegara. Wanita itu masih tertidur. Ah, Aku harus membangunkannya.
Aku baru membangunkannya ketika tiba-tiba mata yang terpejam itu terbuka perlahan.
''Oh, maaf. Saya tertidur tadi,'' Ujarnya.
''Sebentar lagi kita akan sampai di Jatinegara. Adik akan turun di sana, kan?'' kataku. Ia mengiakan.
''Eh, saya belum membayar nasi goreng dan teh yang saya pesan tadi,'' katanya.
Aku tersenyum. ''Sudah saya bayar tadi,'' jawabku. ''kalau begitu...kalau begitu...'' wanita itu membuka tasnya mencari-cari sesuatu.
''Ah, tak perlu Adik ganti. Toh tak seberapa,'' kataku.
''Oh terima kasih kalau begitu. Saya telah merepotkan kakak,'' ucapnya pula, agak tersipu.
Kereta api mengurangi kecepatannya. Aku agak kecewa karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan wanita yang ayu dan bermata teduh itu.
Perlahan kereta memasuki Stasiun Jatinegara. Wanita itu berdiri dan bersiap-siap untuk turun. Kubantu ia menurunkan tasnya dari tempat penyimpanan barang yang berada diatas tempat duduk kami.
''Terima kasih atas segalanya, Kak,'' Ujarnya sesaat sebelum ia berlalu.
''Sama-sama,'' sahutku. Kami bertatapan dan sama-sama tersenyum.
''Eh...boleh saya tahu nama Adik?'' kataku.
''Amanda,'' ujarnya tanpa ragu-ragu.
Kuperkenalkan juga namaku kepadanya.
Kuantarkan ia sampai pintu keluar kereta. Diambang pintu itu kami saling mengucapkan salam.
''Sampai bertemu lagi Kapan-kapan, Kak,'' Ucap Amanda.
''Ya, sampai jumpa lagi,'' balasku. dan kami pun berpisah.
Kembali ketempat dudukku, Aku kaget. Kutemukan sebuah dompet wanita yang tergeletak disudut kursi yang tadi diduduki Amanda. Celaka, Rupanya dompet Amanda Ketinggalan. Secepat kilat kubuka dompet kulit itu. Benar saja, didalamnya ada KTP Amanda dan sejumlah uang. Bergegas aku keluar untuk menyusul Amanda dan mengembalikan dompet itu kapadanya.
Dengan terburu-buru aku keluar stasiun. Diluar stasiun, agak jauh disebelah sana, Tampak Amanda berjalan, hendak menyebrangi jalan yang cukup padat dengan berbagai kendaraan.
''Dik Manda! Dik Manda!'' teriakku ini dompet Adik ketinggalan,'' sekali lagi aku berteriak memanggilnya dari belakang. Ia terus saja berlalu..?'
Aku menyebrangi jalan dan mengejar Amanda. Ia terus berjalan dan menjinjing tasnya.
''Dik Manda, Tunggu!'' kutepuk bahu Amanda dari belakang dan ia menoleh. Begitu kami berhadapan wajah, tampak ia terkejut sekali. Wajahnya memucat.
''Oh kakak!'' Knapa kakak mengejarku, Tanya Amanda kepadaku..?'
''Ini dompetmu ketinggalan di kereta, tanpa ini kamu akan sangat kesusahan Dik.
Oia tadi aku berteriak memanggilmu tapi Dik Manda terus saja berjalan, Ada apa Dik,'' Kataku. Kutatap wajah Amanda yang pias. Tiba-tiba aku menaruh curiga yang aneh terhadapnya.
''Oh Maaf,'' Ujarnya seraya menerima dompetnya dengan tangan yang rada gemetar. ''Maaf'' bukannya saya tidak mendengar panggilan kakak. Tapi, Saya takut jika benar-benar kakak mengejar saya dan terjebak oleh perasaan selama dalam perjalan kita, Karena saya Adalah Wanita yang sudah terhijab oleh ikatan suci. ''Seperti tanpa disadarinya, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Amanda, Kemudian ia pun kembali meneruskan perjalanan nya.
Aku seperti linglung dan kalut. Ah, pantaslah, selama pembicaraan kami tadi, Ia terus memandangku.
Dan aku hanya bisa berkata dalam Hatiku ''Sungguh.....,,,Anugerah sekali seorang suami yang beristerikan seorang wanita seperti Dia''..?'
